setiap berangkat kantor, aku selalu lewat simpang susun tomang. seperti banyak terjadi di persimpangan jalan di jakarta, ada saja tunawisma yang menadahkan tangan pada saat lampu pengatur lalin nyala merah, lengkap dengan mimik memelas. di antara mereka, terdapat beberapa ibu yang mengendong anak balita. kulit para balita itu hitam legam terbakar matahari, kebanyakan dari lobang hidungnya keluar ingus.

duh Gusti, apa salah anak-anak itu, sehingga harus ikut menanggung beban hidup yang begitu berat. apakah ini yang disebut dengan kemahaadilan MU? apakah memang anak-anak itu layak KAU jadikan?

kalau memang bapak ibunya terpuruk di jurang kemiskinan, haruskah balita itu KAU hadirkan? ataukah KAU biarkan semua itu terjadi, seperti seharusnya?

ampun beribu ampun, mengapa pula aku berani mempertanyakanMU. mengapa aku begitu berani mengharuskanMU? bukankah seharusnya aku sujud syukur, bersimpuh di kakiMU, atas segala yang telah KAU berikan kepada kami selama ini?

KAU hadirkan istri yang begitu sempurna untukku, KAU titipkan sepasang anak manusia yang begitu menggemaskan untuk kami. KAU limpahi kami dengan segenap harta tak terkira, kasih sayang, tulus ikhlas. KAU biarkan kebahagiaan mengisi hari-hari kami. dan KAU jauhkan kami dari marabahaya.

maka terkutuklah aku, yang begitu gagah, berteriak lantang, bagaikan mahaguru menghakimiMU. maka binasalah aku, yang terus saja menyembah berhala-berhala abad duasatu, dan silau akan tahta emas bersabut berlian. tanpa peduli betapa banyak sesamaku yang tak seberuntung diriku sekarang ini.

Gusti, ampunilah hambaMU ini.

teringat, jagoan kecilku, adhitya, dan malaikat kecilku, silvia. maafkan papa kalian, yang selama ini berjalan sendirian tanpa hirau betapa kalian merindukan belai seorang papa.

adhitya, silvia, sungguh papa sayang kalian.

Iklan