empat hari pasca gempa di jogja dan sekitarnya, rasanya aku masih kaget. bayangkan 5.9SR dan menewaskan sedikitnya 5472 orang!

sabtu 27-5-20006 pukul 6.30-an, aku msh di tempat tidur dgn adhitya, udah bangun, cuma  malas – malasan. ada telepon masuk dari kakak, "Jogja gempa! Bantul – Klaten – Solo kena!"  lantas kunyalakan tv, kucari metrotv, hanya ada ticker news : gempa mengguncang yogyakarta dan sebagian jawa tengah, begitu kira-kira. kuraih gagang telepon, kupenjet nomor rumah solo. sibuk. coba lagi setelah 3 menitan,

"Ya hallo?", suara ibu di seberang. lega rasanya denger suara beliau. meski terdengar agak bergetar, namun aku yakin, ibu nggak papa. 

"Mami nggak papa? Aku barusan dapat kabar dari mbak Osie? Solo katanya kena."

"Ora popo, ya memang keras, hiasan meja siku pada jatuh ke lantai, pecah, kaca bergetar, tapi rumah ora opo-opo."

"Oh, ya, puji Tuhan!"

"Tapi telponna adikmu karo mbakmu jogja! Dari tadi mami telpon ora masuk."

"Yo, wis, nanti aku kabari lagi."

dan semenit, dua menit, tiga menit mpe tengah hari kemudian, aku berjuang utk telpon kakakku dan adikku di jogja. finally, kakakku tersambung, untunglah mereka selamat semua. tapi ada kabar kost adikku rubuh! duh Gusti.

menjelang pukul 3 sore hari, sms dari adikku masuk. kost memang rubuh sebagian, tapi adikku selamat. langsung kutelepon, kurang lebih 4 kali dial baru tersambung.

kubuka address book di CX65-ku, sembari mengingat barangkali masih ada temen2 yang tinggal di jogja dan sekitarnya. ada bbrp nama, agung, dewi, wuwuk, andre, mas aris,mas ryo, dan gatot. dua nama pertama tinggal di bantul, daerah yang diberitakan paling hancur. dan mpe malam hari baru kudapat berita via sms, mereka selamat meski sebagian rumah dan rumah tetangga kiri kanan hancur. untunglah temen – temen semua selamat.
sampai larut malam, tersaji drama mencekam di layar kaca rumah. jumlah korban terus meningkat. dan aku bener – bener tercenung.

begitu dahsyat alam menggeliat, begitu hebat tamparan Allah pada kita semua. dan kita hanya bisa berpasrah seraya berdoa, ampuni kami hambaMU ya Allah.

tapi yang paling menyesakkan dada, bukanlah gempa dan dampak daripadanya. justru ulah orang – orang terhormat yang sekarang ini duduk di kursi empuk pemerintahan. berbicara berbusa – busa bahwa pemerintah akan ini akan itu dst.  dan korban pun terus merana. 

andai saja aku nggak lagi punya baby, pasti saat ini aku udah di jogja, bersama rekan – rekan ORARI lokal Jateng dan DIY bahu membahu membangun jaring komunikasi via radio. bekerja sama dengan instansi dan potensi daerah setempat, menggelar posko – posko penanggulangan bencana. tanpa tampil di tipi dan ngomong mpe berbusa. 

seperti yang sudah – sudah, ORARI memang telah memiliki juklak penanggulangan bencana alam. dengan hancurnya infrastruktur komunikasi dan listrik, jalan satu – satunya untuk dapat berkoordinasi antar wilayah bencana hanyalah melalui radio komunikasi, yang sanggup dioperasikan menggunakan accu bahkan bateray kering.

komunikasi dan koordinasi rasanya menjadi hal penting untuk dapat menjalankan prosedur penanggulangan bencana. tim evakuasi bekerja berpacu melawan waktu, menyelamatkan korban yg barangkali saja masih bertahan hidup di bawah reruntuhan.

sekali lagi, itu semua dapat dilaksanakan seketika tanpa tampil bicara di tipi – tipi swasta sampe berbusa. 

Iklan