bulan sebelas ini memiliki arti tersendiri bagiku. mulai bulan ini aku resmi resign dari perusahaan yang telah membentukku selama 4 tahun terakhir ini dan kerja di sebuah perusahaan yang sama sekali asing bagiku.

kepindahanku banyak dikagetkan teman – teman. kurang apa sih? itu pertanyaan yang spontan terlempar dari mulut mereka. wajar memang. berkantor di bilangan sudirman, karir yang mantap, dan segala kesenangan yang mereka lihat selama ini dariku.

barangkali hanya temen dekatku dan istriku yang tahu alasan dibalik kepindahanku. ini memang pilihan yang berat. meninggalkan sesuatu yang telah ada untuk sesuatu yang belum tentu ada. salah satu peganganku hanyalah adanya kemungkinan bahwa esok aku mungkin akan kehilangan semuanya yang sekarang ada.

masih teringat jelas, temen – temen accounting pada nggak percaya tatkala aku pamit. berkali – kali aku katakan kalau aku serius habis lebaran pindah kerja. begitu juga dengan sebagian temen – temen hrd, marketing, dan purchassing. sebab selama ini namaku tidak pernah sekalipun muncul di saat obrolan ringan sembari makan siang. gossip si a atau si b mau resign sih udah sering, tapi sekali lagi, namaku tidak masuk dalam semesta pembicaraan, tepatnya, gossip mereka.

aku memang tidak pernah obral omongan ke orang laen kecuali kepada istriku selama itu. proses perekrutan dan pengunduran diri aku lakukan tanpa banyak orang tahu. meski berjalan selama kurang lebih 2.5 bulan, rahasia itu tetap tersimpan rapi sampai saat di mana aku pamit ke temen – temen, tepat sebelum libur lebaran kemaren.

aku memang tidak mau timbul gossip bukan – bukan seiring proses pengunduran diriku, kasihan staf ku yang tidak tahu apa – apa. biarkan mereka dengar dari mulutku sendiri alasan resign-ku pada saatnya nanti. itu prinsipku. dan telah kujalankan.

satu orang stafku terlihat menahan tangis, sewaktu aku katakan pada mereka kalau aku positif resign. hal ini yang tidak aku antisipasi. hubungan emosional yang terjalin antara aku dan staf ternyata justru membuat aku kehilangan kata – kataku sendiri. aku hanya bisa bilang maaf. dan aku tidak yakin mereka mengerti penjelasanku.

aku ini kapten kapal, tapi mengapa justru meninggalkan kapal pada kesempatan pertama ? penjelasan apapun tidak akan bisa memenuhi rasa keingintahuan. biarkan masalah sebenarnya tetap aku pegang teguh, sampai waktunya kelak. namun aku yakin mereka yang masih di dalam akan baik – baik saja tanpaku.

goodbye! all of you!

tulisan ini seharusnya udah terposting dari dulu ya..

Iklan