hallo sahabatku,

perkenankan sore ini aku mengoyak waktumu untuk sekedar merangkai kata membuang buah pikiran otakku

seiring dengan semakin matang usia kita, yang nampak dari semakin besar angka yg menyertai waktu kita, semakin tinggi pula tuntutan lingkungan terhadap eksistensi diri.

menjadi orang tua, atasan sekaligus bawahan, anggota masyarakat, anggota komunitas ini dan itu, dan bejibun peran lainnya tidaklah semudah menuliskannya.

dan aku mengalaminya semua, what about you?

hambatan? sudah pasti ada.
keberhasilan? sangat tipis batasnya dengan kegagalan.

dan beginilah salah satu kisah kecilku…

jagoanku, adhitya, begitu antusias setiap kali mendengar suara mobil papanya masuk pelataran rumah di senja hari. tentu saja kalo dia tidak sedang tidur. dan segera melihat dari balik teralis pintu, sambil berkata “telus, telus, stop! sipp!” bergaya layaknya tukang parkir di pinggir jalan sana.

bidadariku, silvia, segera terjaga seraya merangkak mendekati kakaknya, dan melihat dengan mimik ceria ke arah luar. mencari – cari papanya. celoteh nggak karuan terdengar menyapa telingaku.

di belakang mereka, sesosok wanita dewasa yang begitu kukenal mengawasi sembari menjaga keduanya. dan senyum tulus mengembang di bibir yang pernah begitu menggodaku. menyapaku.

Oh Tuhan, terima kasih atas segala rahmatMU ini.

hilang sudah kepenatan sehari ini. sirna sudah segala urusan sesiang ini. tergantikan oleh kehangatan yang mereka ciptakan untukku.

begitulah seharusnya. semua tercipta.
namun kadang skenario harus diubah sesuai dengan kondisi lapangan. kadang sang Sutradara ingin melihat babak yang laen.

kami berdua terkadang gagal dalam bercinta. membina hubungan sebagai suami dan istri, cinta suami kepada istri, cinta istri kepada suami, cinta suami kepada anak, dan cinta istri kepada anak. tentu saja tidak sebaliknya, toh mereka anak – anak pasti tidak meributkan kepada siapa mereka jatuh cinta.

bukankah rasa cinta itu seharusnya dijaga agar tetap ada? ya. dan kami sadari itu. namun kesadaran saja rupanya tidaklah cukup untuk tetap menyala. dibutuhkan niat dan kehendak yang kuat. dan kadang kami gagal mencapainya.

tentu saja kegagalan tidak serta merta membuat segalanya berakhir. ada kekuatan laen yang membuat kami tetap bersatu. suatu komitmen, suatu janji, suatu kedewasan, dan suatu kewajiban membayar utang kepada Sang Khalik.

dengan begitu, fragmen akan terus mengalir. babak demi babak akan terus terlahir, tercipta untuk semua. memang kadang penuh tawa, meski tidak luput ada tangis diantaranya.

*seperti yang pernah kuceritakan pada seorang sahabatku

Iklan