Smack Down!  memang lagi naik daun, setidaknya di sini. tayangan sportainment yang aslinya sudah ada entah berapa tahun lalu di negara asalnya sono, mendadak sontak menjadi istilah yang tidak asing di kebanyakan orang. dibicarakan di tingkat akar rumput sembari mengunyah singkong bakar, karena nggak ada minyak tanah untuk merebusnya.

tontonan olah raga yang dibungkus dalam sebuah pertunjukkan ini konon memiliki rating yang bagus, sehingga stasiun televisi berlomba mendapatkan hak siarnya. di indon, Lativi yang pegang hak siar. dari sisi bisnis memang terlihat bahwa tontonan ini sangat menggiurkan.

smackdown mempertontonkan “kekerasan” yang memang ditujukan murni untuk hiburan. para pelakunya telah melalui latihan bertahun – tahun, sehingga dapat menyuguhkan “kekerasan” yang memang mirip dengan kekerasan. tidak diperlukan analis untuk menikmati tontonan ini. duduk dan nikmati. sesederhana itu. namun apakah pesan ini tersampaikan?

aku rasa tidak. dengan munculnya kontroversi soal tayangan ini yang mana berkorelasi langsung dengan jatuhnya korban anak – anak tak berdosa yang meniru adegan di dalamnya, jelas menunjukkan bahwa masyarakat kita tidak siap. pertanyaannya adalah apakah benar menonton smackdown menyebabkan kita lebih agresif?

bagaimana dengan tontonan berita tentang tawuran massal ? bentrokan antara satpol dan pedagang kakilima akibat digusur ? maling yang digebuki massa ? polisi yang menganiaya demonstran ? anggota dpr yang saling tinju ? bentrokan antar pendukung balon gubenur ?

semuanya memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa penyelesaian dengan otot adalah hal yang sangat biasa. kita memang bangsa yang barbar. haus darah. tingkat pendidikan tidak ada korelasinya di sini.

pemerintah seperti gagap mengambil sikap. para pelakunya asyik mengamankan posisi periode depan. urusan perut sendiri tetap prioritas. lantas di mana peranan mereka ? sejujurnya, sedih untuk mengatakannya. karena memang aku lihat tidak ada peranan sedikitpun mereka dalam upaya mencerdaskan kehidupan berbangsa.

hanya pemerintah yang salah ? orangtua, sebagai garda depan pendidikan anak, jelas memiliki pengaruh langsung. di tangan mereka pendidikan moral dan agama anak bangsa diserahkan. tidak kepada pemerintah, pun sekolah.

smackdown hanyalah sebuah kasus pengkambinghitaman sebuah tontonan. karena memang itulah cara paling gampang mengalihkan perhatian. bahwa sesungguhnya kita semua gagal dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bertanah air yang mengedepankan akal sehat dan nurani yang diselimuti kedamaian hati.

beginilah nasib bangsaku.

Iklan