udah banyak yang memperdebatkan praktek poligami di negara kita, pro dan kontra. masing – masing dengan penjelasan panjang lebar. udah basi! aku hanya tertarik (lagi) masalah ini gara – gara baca berita siang ini. dan tulisan ku ini hanyalah ungkapan hati yang terbuka untuk dikoreksi, meski apa peduliku padamu.

aku berkeyakinan, perkawinan di tengah perkawinan, tetaplah berdasarkan NAFSU bukan CINTA. sebab cinta bagiku tidak pernah bisa dibagi. sekali engkau memberikannya kepada orang, mana bisa kita ambil lagi?

apabila engkau telah mencintai wanita yang satu itu, bagimana mungkin engkau mencintai wanita yang lain?

poligami jelas produk laki- laki. perempuan hanyalah obyek penderita. dan penderitaan mereka ini tidaklah dianggap penting untuk masuk dalam semesta pembicaraan kaum pandai tentang bagaimana cara mereka mengumbar nafsu dengan benar.

kalo toh pelakunya berdalih dibolehkan oleh agama, kawinilah janda – janda setengah tua, yang tidak berdaya mendidik dan memberikan kelayakan bagi sejumlah anaknya. dengan begitu jelas bagimu mana cinta dan mana nafsu.

Iklan