natal sebentar lagi. suasana menyambut natal sudah nampak di beberapa rumah warga kristiani di manapun di dunia. aroma kegembiraan natal terpancar daripadanya. dan aura natal berpendar menyegarkan jiwa – jiwa yang haus.

seperti tradisi yang sudah berlangsung berabad lalu, sejumlah umat mulai sibuk mempersiapkan list yang berisi nama dan alamat rekanan kerja, teman, pacar, dan semua orang yang akan dikirimi kartu ucapan natal. setelah didapatkan list, baru datang ke toko buku, membeli beberapa lembar kartu ucapan beraneka rupa. kemudian kegiatan ini akan berlanjut dengan membeli sejumlah perangko di kantor pos terdekat. setelah itu, menulisi setiap kartu dengan kata – kata pribadi, memasukkan ke dalam amplop, lalu menulisinya dengan nama dan alamat yang dikehendaki. selesai? belum. harus ada yang memasukkan kartu – kartu tadi ke kotak pos di kantor pos terdekat.

meski terlihat repot dan memakan waktu, umumnya dilakukan dengan penuh suka cita. kegairahan natal dan kesadaran untuk saling sapa, berbagi, sanggup mengusir segala kemalasan dan keengganan melakukan setiap detil dalam berkirim kartu ucapan.

waktu berganti, teknologi berkembang begitu cepat. penetrasi mobile phone alias hape begitu dahsyat. fitur sms dan mms yang terintegrasi di dalamnya menawarkan solusi praktis dalam berkirim kabar dan ucapan. ritual berkirim kartu ucapan macam uraian di atas digantikan hanya dengan mengetikkan sebaris paragraph atau ditambahkan dengan lagu dan potongan gambar. lalu SEND. semudah itu.

tapi apakah sms/mms sanggup menggantikan ritual cara berkirim ucapan? bagi sebagian orang, khususnya kaum muda pasti menjawab YA. namun bagi kaum moderat tradisional, agak susah meninggalkan ritual menulis kartu ucapan. barangkali karena orang muda cenderung gampang menyerap kemajuan teknologi, menjadikan segala sesuatu serba cepat, relatif lebih murah, dan berkelas. sedangkan di sisi seberang, menganggap bahwa ritual menulis kartu ucapan membutuhkan energi ekstra yang melibatkan emosi. yang lantas berkilah bahwa aura natal tetap lebih terasa melalui sentuhan tulisan tangan yang dikirimkan secara pribadi tidak melalui mesin teknologi informasi.

bagi orang timur, seperti diriku ini, sentuhan personal dalam berkirim kartu tentunya mendapatkan tempat tersendiri. menuliskan kata demi kata di selembar kartu bergambar pohon natal tentu sangat berbeda dibandingkan memencet tombol keypad handphone.

di sisi penerima, pastinya terdapat dua kubu pula. ada yang merasa lebih dihormati bila menerima kartu ucapan fisik dibandingkan membacanya di hape. namun ada pula yang tidak mempermasalahkan media, isi dan maksud tujuan menjadi lebih penting.

bagaimana dengan anda?

Iklan