“Kami akan menikah, sabtu 30 Des 06, 10.00 – 14.00, gedung xyz, Jkt. Datang ya. Ini no rek-ku 068.123.5432 bank ABC an. akusendiri.”

seandainya terima sms yg isinya undangan kaya di atas, kira – kira bagaimana ya reaksiku? kaget? senyum? marah?

sesuatu yang sekarang nampaknya masih tabu, bukan berarti akan tetap ditabukan selamanya. begitu pula dengan penggunaan sms sebagai ganti undangan nikahan. kalo sekarang saling kirim ucapan bisa lewat sms kenapa pula undangan nggak sekalian lewat sms? pernah kan terima sms yg isinya undangan/ajakan buat kumpul, makan – makan dan sejenisnya dari kawan? nah bukankah arah ke undangan yg sifatnya lebih serius telah terbuka?

dengan dalih beda ruang – waktu dan demi efisiensi, orang cenderung pengin yg praktis – praktis saja. bayar tagihan kartu kredit, listrik, telepon, mobil, rumah, sekarang bisa lewat hape. nggak perlu lagi ngantre di depan loket. bahkan nyumbang atau zakat saja udah bisa lewat hape. masih ingat kan waktu ada bencana gempa jogja dulu? lepas dari persoalan teknis yang pasti ada, kenyataan ini menguatkan fakta bahwa semuanya mungkin terjadi.

pertanyaannya adalah kapan? mungkin saja ketika kita sudah tidak begitu mempedulikan interaksi fisik, face to face, silaturahmi, kesantunan khas orang timur, dengan dalih ribet. ketika teknologi telah mengubah tatanan srata sosial masyarakat kita, sehingga kita bisa lebih permisive dalam mengadopsi sebuah teknologi informasi.

akankah ?

Iklan