i am dreaming of a white christmas

seputih apa sih seharusnya sebuah natal? apakah memang harus putih? apakah harus ada salju biar putih? dan apakah salju itu harus nempel di daun tiruan bernama pohon natal?

bertahun – tahun lamanya, sejak kecil, sejak aku kenal melalui kesadaranku sendiri iman kristiani, terbayang natal adalah baju baru, pohon natal dengan hiasannya, kapas putih, dan selusin hiasan digantung di sekeliling pohon.  tak pernah terpikirkan, mengapa harus begitu. segala pernak – pernik natal seperti dijejalkan begitu saja oleh sistem kapitalis sejati. memenuhi otak. dan lupalah kita akan esensi natal sendiri.

bukankah Yesus sendiri lahir dengan penuh kesahajaan? bukankah DIA lahir karena keprihatinan Allah melihat kemunafikan umatnya? bukankah DIA datang karena kebejatan dan kebebalan pikiran kita?

kesederhanaan, keprihatinan, dan kemisteriusan cara Yesus lahir adalah cara Allah untuk menyentil hati dan pikiran kita. seolah – olah kita ditampar olehNYA, agar senantiasa ingat akan ketiadaaan kita dihadapan Allah. kita adalah sejumput debu di mata Allah. tak ada sedikitpun alasan untuk bersikap jumawa di depan Allah. dengan caraNYA pula, lahir untuk kita Sang Putra Tunggal yang kelak menjadi junjungan kita. dialah Yesus putra Daud, sang Kristus.

dengan begitu, sudah seharusnya, bagi mereka yang telah merdeka secara finansial kembali melihat ke bawah, tidak selalu menengadah, dan berlaku congkak. Sang Junjungan justru lahir dari kalangan bawah, anak seorang tukang kayu, dekat dengan bau kotoran domba. dan DIA-lah yang seharusnya menjadi teladan hidup.

dan bagi mereka yang masih dalam suasana keprihatinan, terbelenggu secara finansial,  sudah seharusnya sadar, justru dari lingkungan merekalah Yesus dilahirkan. tidak ada lagi alasan untuk merasa disingkirkan, terasing. dan tidak seharusnya selalu melihat ke atas.

dengan demikian, natal bagiku tetaplah kesahajaan. kehadiranNYA justru membuat aku malu, tertunduk penuh haru.  haruskah aku diingatkan oleh Allah sendiri bahwa jalanku belumlah menuju jalanNYA? haruskah ada yesus – yesus lain sekedar untuk menampar jiwaku? haruskan dia berkorban nyawa hanya untuk menunjukkan betapa besar cintanya padaku? terkutuklah aku bila begitu adanya.

dan sekarang, natal kali ini, dengan penuh kesahajaan dan hati tertunduk, aku ingin kembali bersih, putih, berharap dapat menjaganya setidaknya sampai esok hari.

Selamat Natal sobat! Sudahkah kau terbangun?

Iklan