membaca berita detik berjudul “Kartu Magnetik ‘Amankan’ DPR” membuatku tergelitik untuk urun komentar, mumpung kasih komentar tidak bayar dan bebas pajak.

sekilas baca, tidak ada yang salah dengan pemakaian kartu magnetic untuk door access control. sudah banyak perusahaan swasta yang menerapkannya. kantor pusat pabrikku juga menggunakan teknologi yang kurang persis sama, jenis kartunya yang beda. sedikit lebih mahal dibanding teknologi magnetic, yakni proximity card.

implementasinya, setiap pintu dan lift dipasang card reader, hanya pemakai card yang boleh mengakses. hanya pintu toilet saja yang bebas. reader ini terhubung dengan pc yang memuat database pengguna kartu. bisa kita atur siapa boleh kemana, bahkan sampe jam akses pun bisa diatur. artinya si A hanya boleh masuk ruangan X jam sekian sampai jam sekian. teknologi ini dilengkapi pula dengan software aplikasi time attandance yang berfungsi untuk mesin absensi karyawan. pergerakan karyawan ke mana pun bisa dipantau, kecuali saat ke toilet 🙂 persis seperti berita di detik.com :

Karyawan, staf khusus, dan wartawan nantinya hanya bisa memasuki ruang-ruang tertentu saja. Sementara anggota DPR bisa masuk ke ruangan mana saja yang dikehendakinya.

“Kalau lantai 10 ya 10 saja, tidak bisa yang lain-lain,” tegas Faisal

dari sini, bisa disimpulkan bahwa penggunaan magnetic card memang aman dan menguntungkan. setuju?

namun setidaknya ada 3 hal kelemahan mendasar dari sistem tersebut. pertama, seluruh akses diatur hanya melalui single database, yang biasanya juga dipasang di satu pc. keyperson ini tentu saja punya wewenang masukin nama orang – orang yang diberikan akses pintu. selama orang luar punya akses ke orang ini, ditanggung beres. tapi tentu hal ini bisa dibatasi dengan adanya fungsi kontrol yang ketat. setiap daftar akses hanya akan valid tanpa tandatangan pihak berwenang. tapi bagaimana dengan di dpr sana?

kedua, magnetic card tidak mengenal si pembawa kartu, identifikasi hanya dilakukan pada kartu bukan pembawa kartu. selama bisa minjem kartu orang laen lolos deh. untuk mengatasi hal ini biasanya reader dilengkapi dengan PIN code. tapi seberapa efektif sebuah pin code? tergantung si pemilik pin/kartu sekali lagi.

ketiga, magnetic card atau card yang lain, tidak bakal berkutik dengan adanya pertemanan dan persekongkolan. penebeng akses. ikut masuk ke ruangan dengan orang yang berhak. mau masuk ruangan? cari kenalan dong 🙂

ketiga kelemahan tadi tentu saja mudah untuk dimanfaatkan oleh orang – orang yang memang sudah cacat mental dari sononya. mental tidak tau malu dan tidak tau diri. dan untuk kasus dpr, duit adalah jawaban dari segalanya.

kesimpulannya, tidak ada yang salah dengan penggunaan teknologi maju. tapi harus disertai dengan sebuah prosedur kontrol yang ketat dan tanpa kompromi. faktor manusia sangat penting di sini. kalo toh setiap orang di dalam dpr sana bisa disogok buat apa?

kasus yang mirip terjadi pada proses komputerisasi SIM (surat ijin mengemudi) yang dulu menghabiskan sekian ratus milyar rupiah. teknologinya lumayan bagus tapi sistem yang dipakai tidak mengatur dengan ketat perilaku pelakunya yang haus uang. sim akan tetap jadi tanpa ikut test atau test hanya nitip. cukup berikan uang pelicin, semua urusan beres, tinggal nunggu foto. hebat kan? dan kita tidak melihat apa manfaat digitalisasi sim sejauh ini, kecuali tampilannya yang relatif lebih bagus dibanding sim lama.

kita tunggu saja apakah digitalisasi pintu sanggup ‘mengamankan’ gedung dpr?

Iklan