anda masih lajang? nikmatilah selagi bisa. itu adalah saran dariku, meski sederhana namun akan sangat berguna kelak jika anda memutuskan untuk menikah dan punya keturunan.

jomblo adalah lambang kebebasan. bebas untuk bertindak, bebas untuk bersikap dan menentukan nasib sendiri. masa ini adalah masa dimana segala hal yang bersifat keaku-an harus dihabiskan. dituntaskan. segala sifat kekanak – kanakan serasa menemukan tempatnya untuk tumbuh dan berkembang.

kalau kita sudah merasa tidak ada lagi keasyikan manakala sendiri, ada kerinduan untuk berbagi, ada kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita butuh seorang untuk kita cintai, tibalah saatnya bagi kita untuk serius membina cinta dengan seseorang yang istimewa. teramat istimewa sehingga kita tidak lagi butuh orang lain selain dia.

aku memang bukan konsultan perkawinan, namun dari pengalaman kami membina rumah tangga yang baru seumuran jagung ini, ketidakdewasaan masing – masing pribadi merupakan sebuah hambatan luar biasa bagi langgengnya suatu perkawinan.

perkawinan hakekatnya adalah penyatuan dua pribadi ke dalam satu wadah berbadan hukum. dalam hukum matematika manapun satu tambah satu pasti menghasilkan dua. nah bagaimana dengan satu pribadi ditambah satu pribadi agar menghasilkan satu juga? nggak akan pernah bisa kecuali masing – masing mengurangi setengah dari dirinya untuk bersatu dengan pasangannya. setengah bagian buruk dibuang untuk disatukan dengan setengah bagian yang baik dari pasangan.

memilih dan memilah mana kebiasaan baik mana kebiasaan buruk sangatlah tidak mudah. dibutuhkan kedewasaan dalam berpikir. dibutuhkan kelegaan untuk menerima kritikan, dan dibutuhkan keterbukaan untuk bisa menerima cacian. tanpa sikap itu semua, sampai kapanpun kita akan tetap menjadi seorang bayi berbadan dewasa.

kami telah berpacaran kurang lebih sepuluh tahun lamanya. ada saatnya kami berpisah, cooling down, ada saatnya bagi kami untuk kembali menyatu manakala tersadar ada sesuatu yang hilang saat kami sendiri. ada cerita suka di sana namun ada juga cerita duka menyertai perjalanan kami waktu itu. salah satu alasan bagi kami untuk terus melanjutkan ke lembaga perkawinan adalah kerinduan untuk saling berbagi.

bagi kami lembaga perkawinan bukanlah sebuah laboratorium uji coba. di sana tidak ada lagi jalan kembali pulang. di sana tidak ada lagi istilah retur. kalau sudah beli tidak bisa dikembalikan lagi, apapun alasannya. tidak ada pihak yang memaksa kami untuk menikah. semuanya adalah pilihan bebas. karena itu, tidak pada tempatnya kalau suatu ketika di masa perkawinan kami putuskan untuk bubar. menjilat air ludah sendiri, seperti artis sinetron indonesia itu! kami tidak bisa begitu.

karena itulah, dibutuhkan kedewasaan bagi kami untuk masuk ke jenjang perkawinan. meskipun demikian, perjalanan kami tidaklah semulus yang kami kira. banyak kerikil dan batu di tengah jalan. namun ibarat rally mobil, sang driver harus percaya dengan navigator agar tidak salah jalan ataupun menabrak hambatan dan terjungkal. anda pernah melihat rally mobil kan? bisa dibayangkan kalo driver harus menyimak peta selagi mengemudi dengan kecepatan tinggi? team work! itulah kuncinya.

kini, hari ini, perkawinan kami memasuki tahun kelima. dan kami pun tidak lagi berdua, namun berempat. cinta ku tidak lagi milik istriku namun juga dua anakku. cinta istriku sudah pasti terbagi tiga pula. meski tidak lagi utuh, namun keempatnya menyatu dalam suatu wadah baru, keluarga.

kami hanya berharap, agar kami terus bisa memegang komitmen bersama. selama Tuhan belum memisahkan kami. amin.

Iklan