bagi mereka yang terpilih menjadi anggota dpr ataupun pejabat tinggi di indonesia tercinta ini barangkali merupakan prestasi luar biasa yang sangat didambakan dan dibanggakan. namun sayangnya hal ini tidak terjadi pada diriku, bermimpi menjadi anggota dpr pun tidak mau.

cerita ini berawal dari surabaya. tepatnya di bandara juanda, sewaktu diriku menunggu flight ke cengkareng yang ditunda selama 3 jam tanpa pemberitahuan sebelumnya.

setelah lelah browsing dan jalan – jalan di setiap sudut bandara membuang waktu, aku duduk tepat di depan ruang tunggu calon penumpang. tak jauh dari situ ada keributan. seorang ibu dan pemuda berhadapan dengan dua orang ground crew lion air, belakangan aku tahu kalo si pemuda adalah anak si ibu. Si ibu rupanya marah – marah pada petugas ground crew lion air. penyebab ibu ini marah adalah sangat wajar. manajemen lion tidak memberitahukan dengan pasti seberapa lama status delay. kedua, manajemen tidak memberitahukan kepada penumpang perihal penyebab penundaan. ketiga, manajemen tidak segera mengalihkan puluhan penumpang yang merupakan last flight lion ke maskapi lain yang masih ada schedule flight malam itu. keempat, pengumuman delay dilakukan tepat pada jam keberangkatan, yang seharusnya dilakukan jauh sebelum jam keberangkatan.

meskipun aku sudah sangat lelah, seperti calon penumpang lainnya yang senasib, namun aku tetap berusaha merekam isi pembicaraan mereka. si ibu dengan nada berapi – api meminta pertanggungjawaban dari manajemen lion air. namun setelah membuang waktu begitu lama, si ibu rupanya sadar, dia marah pada orang yang salah. ground crew ini hanyalah staf biasa yang bukan menjadi kapasitasnya untuk memenuhi ataupun menjawab setiap lontaran kekesalan calon penumpang. sampai akhirnya si ibu meminta dipanggilkan operation manager atau manager in duty secepatnya.

merunut logika kita, seharusnya calon penumpang yang lain berpartipasi memaki – maki manajemen lion air. tapi anehnya tidak. hal ini, setidaknya menurutku, dikarenakan cara si ibu marah – marah sangat arogan. berkali – kali dia menyebut dirinya anggota dpr dari fraksi anu partai anu. bahkan dia sempat mengeluarkan kartu anggotanya dan diperlihatkan di depan muka petugas. setiap kalimat yang keluar dari si ibu pasti diakhiri dengan kalimat ancaman, seperti akan saya bawa masalah ini ke dewan atau akan saya perkarakan manajamen lion air, dst.

aku dan mungkin banyak calon penumpang lain jadinya malahan kasihan dengan sang petugas. karena hanya bisa menunduk dan selalu bilang maaf.

memang manajemen lion brengsek. lion yang terkenal sebagai pelopor penerbangan murah di tanah air seharusnya tahu bahwa penerbangan murah bukan berarti murahan.

namun lebih brengsek lagi si ibu yang dengan bangganya mengaku diri sebagai anggota dpr ri yang katanya terhormat itu. pertama, jelas dia salah memilih target kemarahan, seharusnya dia sejak awal minta dihadirkan petugas yang memiliki level manajerial, terlebih karena dia anggota dpr. kedua, kelihatan sekali dia menggunakan pemahaman bahwa dia penguasa yang boleh bertindak sesuka hati, terlihat dari pemilihan kata – kata yang bertolak belakang dengan pengakuannya sebagai anggota dpr yang katanya terhormat itu. ketiga, jelas terlihat bahwa dia tidak mengerti akar permasalahan carut marut manajemen penerbangan di negara tempat dia jadi anggota dpr yang katanya terhormat itu. keempat, si ibu salah memilih maskapi penerbangan.

bukan rahasia umum lagi bahwa sederet maskapi penerbangan murah di tanah air memiliki reputasi buruk. delay, gagal terbang, kecelakaan, bagasi hilang isinya, bagasi tercecer, pesawat yang sudah seperti metromini reyot, dsb.

pemerintah cq departement perhubungan sudah seharusnya menjadi regulator yang mengatur bisnis penerbangan ini dengan sangat ketat. aturan yang dibuat tidak bisa ditawar oleh uang berapapun karena taruhannya adalah nyawa orang. peraturan yang sudah dibuat harus diawasi ketat pelaksanaanya oleh legislatif, alias mpr/dpr. para anggota dewan yang katanya terhormat ini-lah yang pada akhirnya turut bertanggung jawab pada baik – buruknya layanan sebuah maskapi penerbangan.

dari sini bisa dimengerti mengapa aku sama sekali tidak berniat menjadi anggota dewan selama harus menjadi bagian dari orang – orang tolol yang bisanya hanya marah mengumbar nafsu dan membanggakan diri sebagai anggota dewan yang tidak terhormat namun kenyataanya hanya bisa menuntut tanpa bisa memberi.

*/ mohon maaf bila ada yang tersinggung. aku hanya menceritakan kembali peristiwa nyata yang terjadi di depan mataku tempo hari.

Iklan