aku rasa pengalaman ribetnya berurusan dengan telkom adalah sebuah de javu. serasa berulang – ulang setiap waktu tanpa tahu kapan akan berakhir. kalau saja aku ada pilihan lain, sudah pasti akan lari ke operator telco yang lain.

ceritanya adalah saat aku harus mengurus link dari pabrik baru kami dan upgrade bandwidth kantor pemasaran kami, keduanya somewhere di jawa timur. sudah sejak awal dipastikan bahwa karena headquarter menggunakan telkom, maka seluruh unit usaha diharuskan menggunakan operator yang sama untuk urusan komunikasi data. alasannya lebih karena kepraktisan dari sisi administrasi keuangan dan technical support yang satu pintu. it’s ok.

kerumitan bermula dari penentuan account manager (am) telkom. bagi yang belum tahu, setiap corporate client telkom dilayani oleh seorang am yang berbeda di setiap wilayah kerja. nah karena secara geografis, pabrik kami saling berjauhan dan lintas propinsi, siapa am yang bertanggungjawab ? karena hanya aku yang memiliki tanggungjawab akan hal ini dan kebetulan aku sehari – hari berkantor di banten, dan sering ke kantor pusat di jakarta, aku kontak am telkom jakarta yang menjadi am kantor pusat juga. via telepon aku jelasin permasalahan dan kebutuhan kami. si am sebut saya ibu ani, mengatakan dengan sangat jelas, seluruh keperluan kantorku akan dibackup dia. lalu mulailah kami jalankan prosedur administrasi.

draft nota kesepakatan (nokes) pun dibuat setelah saling cross check via email. duabelas hari setelahnya dikirimlah nokes itu ke kami, namun entah mengapa terjadi salah pengiriman. harusnya ke aku di banten, tapi justru dikirimkan ke jawa timur. setelah aku call baru mereka mengirimkan ulang ke alamat yang benar. diperlukan dua hari kerja ekstra untuk kesalahan ini.

setelah nokes sampai di tangan, ternyata masih ada ketidaksesuaian redaksional. terpaksa harus dirubah dan ini memakan waktu satu minggu lagi! namun bukan ini yang menjadi inti cerita.

suatu siang, seorang yang mengaku ibu wati, sebut saja begitu, telepon dan memperkenalkan diri kepadaku. dia rupanya am telkom untuk wilayah timur di mana kantor distribusi dan pabrik baru kami berada. artinya, seperti kata dia, sudah semestinya urusan pemasangan baru dan upgrade link di wilayah itu menjadi urusan dia. bukan am telkom jakarta. nah lo!

terang saja, aku bantah abis – abisan. tapi bukan dengan nada marah lo. aku jelasin runtutan kerjanya. dan finally memang dia mengerti. namun tetap saja pada akhir pembicaraan, dia garis bawahi bahwa itu menjadi wilayah kerja dia. huh.

jadi inilah sebabnya sebuah nokes bisa salah dikirimkan dan salah redaksional. ternyata mereka sendiri ada masalah di dalam urusan internal mereka, sehingga data kantor distribusi kami yang telah menjadi client setia telkom sekian tahun tidak bisa diakses oleh am jakarta secara cepat dan akurat.

sampai hari ini, yang artinya hampir 2 bulan sejak kontak pertama, urusan dengan telkom ini belum kelar. padahal aku dikejar target, end of this month (may), jaringan telah up.

wahai telkom, dikau memang hanya menjadi pelengkap penderitaku saja. tingkah polah dirimu memang mempertegas stigma buruk komunitas it indonesia terhadapmu. ya sudah, kalau memang dirimu tidak bisa berubah, paling – paling aku yang berulah.

Iklan