di salah satu milis sedang hangat didiskusikan tentang surga dan neraka. siapa saja yang berhak masuk surga dan neraka. dan bagaimana mekanisme filtering surga itu. dibahas begitu detil, pada beberapa bagian, bahkan aku skip karena aku sama sekali nggak ngerti apa yang sedang dituliskan.

kata orang pinter agama, kita sebagai manusia harus melaksanakan seluruh ajaran agama dengan tanpa kompromi agar masuk surga. pokoknya harus gini harus gitu supaya masuk ke surga. dan surga itu bukan milik banyak orang, tapi hanya milik agama anu saja. di luar agama anu akan dianggap kafir dan layak masuk neraka.

masih kata orang yang katanya ahli agama, setiap perbuatan baik kita yang dilandaskan pada ajaran di kitab ini dan itu, akan mendapatkan point. jadi kumpulkan banyak point agar jalan ke surga mulus. perhitungan point ini sangat detil, memberikan uang recehan ke pengemis dengan ikhlas akan mendapat sekian point, memberikan makan dan minum pada anak yatim piatu akan mendapat sekian. dan seterusnya.

di surga sana, malaikat telah menyiapkan sebuah mesin hitung super canggih layaknya sebuah super computer yang berisi catatan point kita, kalo tidak memenuhi kualifikasi terpaksa harus didepak jadi calon penghuni surga. yah nasib.

sungguh malang bagi setiap orang yang hanya bisa mengumpulkan point. setiap hari harus bekerja ekstra agar target point tercapai secepatnya.

masih menurut mereka, sungguh sangat malang untuk setiap orang yang bukan dari golonganku, karena tidak ada surga bagi mereka. karena apapun yang telah mereka perbuat, neraka adalah tempat akhir mereka. menyedihkan.

tapi syukurlah, sejak aku dilahirkan di bumi ini, orang tuaku telah memberikan arahan yang tepat. mereka telah menempatkan ku di jalan yang seharusnya kulalui. sejak awal aku cuma disuruh berbuat baik. titik. tidak ada embel – embel surga dan neraka.

aku hanya perlu berbuat baik terhadap seluruh mahkluk, khususnya manusia. di dalam pemahamanku tidak ada manusia yang tidak baik, apalagi kafir. di dalam otakku tidak ada sebuah program yang mengatakan bahwa hanya golonganku yang paling baik. semua manusia adalah sama di hadapan Gusti. dan ini sangat melegakan.

surga dan neraka bukan urusan nanti, surga dan neraka urusannya sekarang ini. saat kita mati nanti adalah urusan Gusti Allah, bukan urusan kita, manusia bodoh ini. biarlah Allah yang punya kehidupan ini yang menentukan kemana arah kita setelah mati. jangan campur aduk antara urusan Allah dengan urusan manusia. kita nggak akan pernah bisa menyamai Allah. jadi tetaplah pada kodrat manusia, berbuat baik saat ini. kepada siapapun tanpa memandang ras, golongan, agama, yang semuanya itu hanyalah ciptaan manusia bodoh yang keblinger pengin jadi seperti Allah.

Iklan