aku pernah begitu bencinya dengan mereka

suatu waktu, anak kami, bidadariku, sakit demam. nggak mau maem, hanya mau sedikit minum. rewel terus, nggak bisa diam, apalagi tidur. sedari pagi kami bergantian gendong dan buat dia nyaman. belum ditambah dengan ngurusi kakaknya, yang untung nggak rewel saat itu.

mentari semakin tenggelam, pertanda senja datang. dan pelan tapi pasti mata anakku terpejam, kelelahan dan akhirnya tertidur. dan kamipun bisa sejenak melepaskan lelah.

namun, entah apa isi otak orang – orang itu, belum genap setengah jam anakku tertidur, suara keras yang datang dari pengeras suara yang terpasang di ujung atap tempat itu, memekikan sebuah ajakan dengan bahasa yang tak kumengerti sama sekali. dan pecahlah tangis anakku karena kaget. lebih keras dari sebelumnya.

sejak beberapa bulan lalu, sebagian besar dari warga kami, sepakat membangun sebuah tempat ibadat, yang di atasnya lengkap dengan pengeras suara. tempat ibadat di cluster sebelah, tidak lebih dari sekilo jaraknya, kurang representatif bagi ukuran warga kami. begitu kata mereka. padahal, suara dari pengeras suara cluster sebelah bisa jelas terdengar melebihi suara televisi di rumah kami. ternyata itu belum cukup. ternyata kebisingan yang mereka timbulkan belum cukup membuat tuhan mereka mendengar apa yang diteriakkan. jadilah udara di perumahan kami penuh dengan polusi suara.

sungguh aku nggak bisa ngerti apa isi otak mereka. logika berpikirku gagal memahami logika berpikir mereka. dan ternyata statistik membuktikan lebih dari 90% komponen bangsa ini adalah orang – orang seperti mereka. yang gagal memahami bhinneka tunggal ika, yang tidak mengerti apa itu pancasila, dan tidak peduli apa itu polusi suara.

sungguh bersyukur, aku tidak seperti mereka. namun sekaligus sedih mengapa mereka tidak berasa, sedikit peka dengan yang lainnya.

Iklan