polisi itu gendut sekali. setiap pagi saat berangkat ke kantor, aku selalu jumpa polisi yang gendut sekali. sebut saja pak bejo, demikian nama yang terbaca di dadanya. tentu saja ini rekaan belaka, takut ntar dituduh penghinaan nama baik yang sebenarnya memang sudah tidak baik.

polisi itu gendut sekali. perutnya membusung bukan dadanya. tugasnya berdiri di tengah median jalan. dan kelihatannya maen sempritan. priiit priiit, supaya metromini dan kendaraan umum tidak sembarangan berhenti. tangannya kirinya selalu melambai – lambai memberi aba, agar sopir – sopir itu mempercepat jalannya.

polisi itu gendut sekali. jalannya pasti pelan sekali. apalagi kalo disuruh berlari. kalo ada copet lari, polisi itu pasti hanya bisa berteriak suruh berhenti. napasnya ngos – ngos satu – satu. masih untung tidak mati. dan sang copet pun hepi.

polisi itu gendut sekali. pasti makannya banyak sekali. tidak cukup makan tiga kali sehari. duitnya pasti banyak sekali. mudah – mudahan tidak dari korupsi dan pungli.

polisi itu gendut sekali. sayang sekali dia jadi polisi. akan lebih baik barangkali kalo jadi politisi. biar republik ini benar – benar menjadi republik mimpi.

plaaaak! ternyata aku tidak bermimpi. melihat polisi gendut sekali.

Iklan