kristenisasi memang merupakan kata yang sangat populer di negeri ini. coba iseng lakukan searching di google dengan keyword kristenisasi. maka akan muncul setidaknya 23.000 halaman yang mengandung kata kristenisasi. namun kalo dicermati, website tersebut banyak berasal dari golongan muslim yang merasa menjadi korban lantas berteriak lantang, hentikan kristenisasi dengan embel – embel menguak segala kebobrokan ajaran agama kristen dan para pemeluknya.

aku sendiri berdiri di pihak yang netral, namun sangat sedih melihat kenyataan ini. tulisanku ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan satu pihak dan membela pihak lainnya. aku hanya berupaya agar semuanya diletakan pada proporsi yang sebenarnya.

kata kristenisasi sendiri mengandung pengertian menjadikan seseorang memeluk agama kristen atau lebih jauh mengkristenkan orang secara besar – besaran dengan segala daya upaya yang mungkin agar supaya adat dan pergaulan dalam masyarakat mencerminkan ajaran agama kristen.

kristenisasi sendiri adalah hak asasi para pemeluk agama kristen. sama seperti setiap usaha orang muslim yang berusaha mengajak sebanyak mungkin orang masuk islam. ini terjadi juga di agama lain, hindu, budha, bahkan pemeluk kepercayaan.

kristenisasi adalah manusiawi dan dalam pengertian lebih luas, bisa terjadi di semua orang pemeluk agama apapun. tentu saja namanya bukan kristenisasi, entah islamisasi, hindunisasi, dan sasi – sasi yang lain.

kristenisasi, islamisasi, hindunisasi, dan sasi – sasi yang lain tentu saja akan terus terjadi dan nyata di sekitar kita. bukan lagi sekedar issue aka isapan jempol belaka. dan sesungguhnya tidak perlu dikhawatirkan.

mungkin saja dalam praktiknya, usaha – usaha untuk mengajak seseorang masuk ke agama tertentu ini dilakukan dengan sangat menyolok dan vulgar, bahkan sampai ke dalam taraf mengganggu kenyamanan lingkungan. ini masalah attitude, bukan lagi masalah kristenisasi itu sendiri. dan semua pelaku agama memiliki kecenderungan untuk itu.

dalam kaitannya dengan peristiwa tsunami aceh dan gempa jogja, boleh saja umat muslim khawatir dengan gencarnya bantuan asing yang notabene orang kristen ke masyarakat bawah di negeri ini. boleh saja mereka mengkaitkan bantuan ini dengan issue kristenisasi. namun tentu saja melakukan klaim bahwa semua bantuan asing itu terkait dengan usaha kristenisasi itu adalah tidak benar. dan lebih cenderung paranoid.

islam sudah begitu besar di negeri ini. berhasil masuk ke setiap sendi kehidupan masyarakatnya. sudah begitu mengakar jauh dari generasi ke generasi. mengapa mesti takut dengan kristenisasi? apakah ketakutan ini sesungguhnya merupakan representasi alam bawah sadar pemeluknya bahwa memang keyakinan mereka begitu rapuhnya? apakah sesungguhnya mereka sadar sesadar – sadarnya bahwa islam belum sanggup menyejahterakan umatnya? belum sanggup memberikan kedamaian di relung jiwa manusia? belum sanggup menentramkan batin yang terluka?

tidak ada gunanya melawan kristenisasi dan sasi – sasi yang lain. pembuatan website yang cenderung provokatif, menjelek – jelekan suatu agama, berteriak lantang di mana – mana bahwa agama ini adalah sesat, agama itu adalah kafir, semuanya adalah tindakan yang sia – sia dan tidak produktif. tidak akan menghasilkan kedamaian di bumi ini. yang ada justru menanamkan kebencian bahwa agama lain harus ditumpas habis, alias menggali kapak perang. apakah memang demikian cita – cita luhur suatu agama yang disebut islam?

pada akhirnya kristenisasi dan sasi – sasi yang lain tidak akan menghasilkan output apa – apa manakala masyarakat yang menjadi targetnya telah beranjak dewasa. telah mengerti bahwa agama adalah baju sementara, agama hanyalah alat untuk menjalin komunikasi mesra dengan yang di atas. dan tidak ada gunanya untuk dipertentangkan.

dengan demikian warga muslim tidak takut lagi dengan kristenisasi karena memang lebih percaya diri. dan memandang usaha itu tidak lebih dari usaha memperbanyak diri dari segelintir orang kristen yang pandai menjual baju mereka sendiri.

di lain pihak, para militan kristenisasi akan semakin sadar, tidak ada gunanya berjualan baju baru kepada orang yang telah memakai baju yang tidak menginginkan membeli baju baru.

Iklan