suatu pagi, di mailbox ku nongol sebuah email dari seorang rohaniawan katolik, sebut saja namanya romo teja. usai membacanya, tiba-tiba hatiku merasa sangat teduh. duh gusti, mengapa orang-orang seperti romo teja ini tidak kau gandakan saja. biarkan dunia dipenuhi dengan orang-orang yang saleh, yang sudah tercerahkan. yang tidak lagi mengumbar hawa nafsu demi tercapainya urusan duniawi. yang tidak lagi menggunakan ‘baju’ hanya untuk menjaga penampilan saja, namun telah menyatu dengan ‘baju’ yang dikenakannya dan hampir tidak ingat lagi kalo sudah memakai ‘baju’.

berikut aku kupipes saja email romo teja, beberapa bagian yang tidak relevan aku buang.

Betul bu, kita hanya bisa kenal Jesus secara baik dan jelas lewat SabdaNya yang tertulis dalam Kitab Suci. Tapi apa yang saya alami ini pasti agak aneh ya… atau ‘murtad’ dan perlu dipertobatkan ya…? Soalnya gini, semakin saya mengenal Jesus lewat sabdaNya dan GerejaNya, selain saya semakin mencintai Dia, kok malah saya semakin jauh dari Dia ya…? Soalnya aku menjadi semakin melihat dan merasakan bahwa ‘keselamatan yang di wartakan Jesus kok makin universal dan tidak hanya exclusive untuk mereka yang masuk menjadi anggota Gereja Katolik ya…?
Apakah saya salah dalam mengenal Jesus ya…. dan anehnya lagi, saya kok malah semakin bangga bila semakin banyak orang yang diselamatkan, dari pada sekelompok kecil yang selamat. Entah dengan apa caranya. Ini pendapat pribadi lo….dan pengalaman pribadi, terutama setelah berjumpa dengan ‘dunia’ lain yang semakin luas. Apakah aku masih layak dipanggil pastor Katolik ya… padahal cinta saya terhadap Kristus dan Gereja tidak berubah.. malah semakin mencintai, karena memang ada keunggulannya.
Rasanya aku semakin ‘mimpi’ untuk mendapatkan dunia, dimana keteduhan hati dan kasih, respect and apreciation dalam memandang perbedaan ‘pemahaman’ diterima dan diakui. Menurut konsep ‘para guru spiritualitas’ semakin orang mengenal Jesus dan GerejaNya, orang akan semakin penuh cinta dan kasih mewujud dalam perbuatan nyata, istilah populernya ‘bertindak lokal, dan berpikir global’… karena Jesus is always ‘hic en nunct’ but forever!!
salam dan doa

Teja yang perlu terus ber-metanoia…..!!!

coba kamu buang kata pastor, katolik, gereja, dan jesus di dalam email tersebut di atas. ganti dengan kata lain yang merujuk pada kata setara dengan ‘baju’ yang kamu pakai. aku bukan ahli agama, jadi nggak tahu pasti apa padanan kata pastor di islam, hindu, budha, konghucu. silakan tulis ulang dan baca perlahan. resapi.

sanggupkah kamu melihat kenyataan bahwa junjunganmu bukan sepenuhnya milikmu sendiri? sanggupkah kamu melihat bahwa apapun baju orang lain, ternyata di jalan yang sama? menuju ke terminal yang sama? sejalan dan searah?

seandainya kamu jawab ya, maka sejatinya kita sejalan dan sepikiran. tidak ada gunanya lagi mempertentangkan baju yang kita kenakan. dan aku yakin, negeri ini akan semakin maju dan sejahtera.

aku sendiri, nggak lagi pengin mengingat apa baju yang sedang kukenakan saat ini. aku hanya tahu jalan yang kutempuh. yakni jalan cinta kasih, welas asih tanpa batas.

jadi kalo kamu tanya apa agamaku, aku nggak pernah ingat lagi dan nggak bisa menjawab. maafkan saja.

Iklan