Tag

agustus adalah bulan istimewa bagi kami. dua di antara anggota keluarga besar kami ulang tahun di bulan kedelapan ini. kakak perempuan kami dan papa. hanya saja kini, bulan agustus adalah bulan kontemplasi, setidaknya bagiku. mengenang kembali sosok yang begitu kupuja, almarhum papa.

beliau adalah sosok pejuang keluarga sejati. segala daya upaya selalu untuk dan demi keluarga, anak – anaknya, salah satunya tentu saja aku. kami adalah sebuah keluarga besar, papa mama memiliki tujuh anak. aku nomor enam. kakak tertua sekarang sudah memasuki usia kepala empat. dan adik bongsor, perempuan, memasuki usia 30-an. bisa dibayangkan susahnya mendidik dan membiayai sebuah keluarga besar ini?

almarhum dulu adalah seorang pegawai negeri sipil, jabatan terakhir beliau adalah kepala gudang beras milik bulog. pada masanya, jabatan ini sangat bergengsi. papa tiap hari diantar jemput supir pribadi menggunakan mobil jeep. tiap bulan di samping gaji mendapat jatah satu karung beras kualitas super. singkat cerita, kehidupan keluarga pada masa itu sangatlah berlimpah.

namun di puncak karir tersebut, beliau memutuskan untuk mundur dari pegawai negeri dengan alasan tidak ingin berpindah – pindah tempat tugas lagi. almarhum yang pada saat itu baru memiliki 2 anak laki dan satu anak perempuan memilih kota bengawan sebagai pelabuhan terakhirnya. belakangan aku mengetahui bahwa ada alasan lain yang lebih penting yang menyebabkan beliau memilih keluar.

almarhum tidak bisa bekerja nyaman dengan terus membohongi hati nurani. sebagai seorang dengan jabatan tinggi di daerah, setiap hari ada saja orang datang dengan berbagai kepentingan. namun hampir semuanya menawarkan kerjasama dengan memanfaatkan kekuasaan almarhum untuk melakukan kolusi. tidak menjadi masalah apabila yang datang adalah sekedar juragan – jurangan swasta alias para cukong beras, tapi nyatanya para pejabat yang memiliki kekuasan dan jabatan di atas almarhum sering kali menekan dengan menggunakan wewenangnya. at the end of this story, akibat menolak untuk melakukan kolusi tingkat tinggi, beliau dipindahkan jauh dari keluarga. dan almarhum memutuskan untuk menolak dan mengundurkan diri dari pegawai negeri.

selepas dari pegawai negeri, beliau mencoba menjadi pengusaha ternak hewan, waktu itu, di daerah kami merupakan sentra ternak babi. sempat menjadi besar namun akhirnya banting setir ke usaha pengrajin mebel besi dan kayu. sekali lagi style kepempimpinan dan manajemen beliau diuji dan terbukti lulus. perusahaan beliau menjadi satu-satunya perusahaan pribumi yang besar di daerah kami waktu itu. dimulai tahun ’64, dari nol, dan terakhir sebelum kolaps telah memiliki pabrik dengan karyawan 20-an orang.

almarhum adalah salah satu dari korban krisis moneter. bunga kredit bank yang semula ramah untuk pengusaha menjadi virus kanker pembunuh keji yang tidak bisa disembuhkan. enam puluh persen pendanaan perusahaan almarhum adalah berasal dari bank. seluruh pengusaha berteriak, namun seperti hilang ditelan bumi. satu demi satu gugur tanpa sempat berjuang.

untuk menutup hutang bank jatuh tempo, beliau memutuskan untuk menjual separuh dari aset tanah beliau. kini tinggallah 900m2 tanah peninggalan beliau yang di sana masih berdiri rumah besar kami.

pelan tapi pasti usaha rintisan almarhum gagal bersaing di tengah iklim usaha yang tidak memihak kepada pengusaha kecil. hidup harus terus diperjuangkan. terakhir beliau berjuang dengan menjadi seorang pedagang mebel aluminium. mengambil dari seorang rekanan dan menjualnya lagi. di tahap ini, aku terlibat secara langsung. merasakan betapa susahnya mencari uang sepuluh ribu rupiah.

almarhum tidak pernah membelanjakan uang yang diperoleh dengan sangat susah untuk membeli barang – barang konsumtif bagi pribadi. seratus persen uang yang didapat dipergunakan untuk membiayai sekolah dan makan anak – anaknya. lima belas tahun sisa hidup beliau, seingatku, almarhum tidak pernah membeli baju baru, sepatu, apalagi membeli barang – barang elektronika. kalaupun beli baju, itu bukan dari uang sendiri tapi karena dibelikan oleh kakak – kakak yang telah lebih dulu kerja di jakarta.

seluruh anak-anak almarhum lulusan perguruan tinggi ternama di negeri kami. baik dari negeri maupun swasta. bagi beliau investasi terbesar untuk anak-anak bukanlah sebidang tanah namun pendidikan tinggi. ini adalah keputusan yang tepat. dan hasilnya kami rasakan saat ini.

beliau telah mengajarkan kepada kami agar bekerja dengan mengedepankan kejujuran, kerja keras, dan terus belajar. sebab itulah nilai – nilai kehidupan yang telah beliau praktikkan selama hidupnya. dari seorang penjabat, serba berkecukupan, banting setir ke peternak babi, pengusaha mebel, dan terakhir pedagang mebel aluminium yang dengan susah payah mendapatkan uang seribu dua ribu rupiah.

sifat ini tertanam jauh di hati kami, setidaknya untuk diriku. untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan di perguruan tinggi swasta tentu saja dibutuhkan biaya besar. mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus belajar dan bekerja dalam arti sebenarnya. skill komputasi yang aku peroleh secara otodidak aku pergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran kantongku. dan inilah masa – masa pembentukan karakter profesionalku. hasilnya, bisa membantu membiayai kuliah, bayar kost, dan sedikit untuk traktir calon mama anak – anakku.

almarhum memang telah kembali ke pangkuan penguasa surga. kematian beliau disesalkan dan mengagetkan banyak orang. kerja keras yang tidak kenal lelah telah mengalahkan fisik sepuhnya, yang berujung ke kematian. banyak pihak merasa usia beliau masih cukup muda. namun memang kelahiran dan kematian adalah misteri Tuhan. kita, manusia hanya bisa menjalaninya tanpa bisa protes.

prosesi pemakaman beliau layaknya ajang reuni dan silaturahmi. kawan – kawan semasa di pegawai negeri yang masih hidup, kawan – kawan di partai politik dan lawan politik, partner kerja, rekanan bisnis, tetangga kiri kanan, semua hadir untuk mengantarkan kepergian beliau. yang menarik, meskipun semasa hidup beliau aktif di golkar, namun pada prosesi pemakaman beliau, justru pdip yang aktif menjadi pembawa peti jenasah serta mengawal jalannya prosesi sampai akhir. memang hampir semua pemimpin parpol di wilayah kami mengenal dengan baik almarhum.

meskipun jasad beliau telah kembali menjadi debu, semua ajaran hidup yang pernah beliau tanamkan kepada kami akan terus menyala di hati kami masing – masing. semangat tidak pantang menyerah, berusaha sekuat tenaga namun harus mengedepankan kejujuran merupakan ajaran yang tidak lekang dimakan usia. dengan menjunjung tinggi ajaran tersebut beliau telah benar – benar menjadi garam dunia. dunia kecil kami, keluarga, sanak saudara, dan kampung kami.

selamat jalan papa. kami akan terus mengenangmu.

Iklan