Tag

,

cuma pengin nostalgia saja sembari membunuh waktu menjelang sore.

pertama kali blajar naik sepeda adalah waktu sekolah dasar, mungkin kelas 2, agak lupa. blajar sama-sama sodara sepupu pake sepeda mini roda dua punya sodara secara waktu itu blom punya sepeda sendiri.

cara blajarnya dengan dipegangi bagian blakang sadle, trus kalo udah bisa genjot aka goes, langsung dilepas. tentu saja ndak sekali dua kali, nggak ingat pasti, tapi rasanya beberapa hari kemudian baru bisa sukses tanpa nyungsep ke kebon pisang.

oiya, waktu kecil kami amat beruntung karena jarak rumah kami dengan jalan umum kurang lebih 20-an meter, jadi kami punya trek pribadi yang bisa dimanfaatkan untuk blajar naek sepeda dan kejar kejaran. trek berupa jalan tanah dengan kiri kanan kebon pisang raja. wuih asyiknya.

trus sewaktu udah sukses bisa naek sepeda, pengalaman buruk adalah tercebur ke parit! waktu itu di kampung blakang kami ada trek tanah yang jalannya turun. tepat di tengah turunan ada parit kurang lebih 2m lebarnya yang tidak dalam namun penuh lumpur bau buangan limbah rumah tangga. di atas parit ini dibangun jembatan dari kayu yang ditata namun tidak selebar jalan, jadi ada penyempitan. di sinilah aku celaka. karena belum terlalu pandai menguasai sepeda, gugup sewaktu lihat penyempitan jalan. sukses masuk parit! badan belepotan lumpur hitam. baunya nggak ketulungan. alhasil kena marah nyokap dan mandi saat itu juga, waktu itu jam 2-an siang.

dibelikan sepeda pertama kali sewaktu smp. waktu itu jamannya booming sepeda on-road. jadi ngikut trend dibeliin sepeda balap. harganya 175ribu. cukup mahal untuk saat itu. meski sebenarnya sudah sejak lama aku pengin punya sepeda bmx karena sewaktu sd lagi booming bmx on the street. itu pilem amerika yang mengilhami anak-anak dan remaja saat itu maen bmx, pada jumpalitan dan akrobat. sayang sekali, kondisi perekonomian ortu tidak memungkinkan untuk itu. ya sudah. tetap bersyukur.

pembelian sepeda balap ini pun ada cerita menarik. aku dan kakak laki-laki nomor dua pergi naek angkot ke daerah pasar kliwon, sala. di sana ada toko sepeda lumayan lengkap dan paling dekat dengan rumah kami di pucangsawit. begitu selesai transaksi, kami berboncengan pulang naek sepeda baru, sepeda balap warna silver yang handlebar aslinya udah diganti ke model rise seperti mtb. jadi boleh dibilang sepedaku itu telah mengadopsi konsep sepeda hybrid seperti punya salah satu pabrikan sepeda besar negeri ini. nah karena jarak rumah dan toko lumayan jauh, meski sebenarnya paling deket, ya sudah, kami genjot pelan-pelan. kadang aku yang duduk di blakang gantian genjot, sementara masku tetap pegang stir. sempat mampir dulu beli es buah di daerah jagalan. sayang sekali, meski sangat kehausan kami harus menahan dulu karena ternyata warung es nya telah kehabisan bahan! yah…terpaksa genjot lagi mencari warung lain. dan di daerah pasar tanggul kami ketemu dengan penjual es degan aka kelapa muda. wuih sedep tenan.

dan sejak punya sepeda baru, aku ke sekolah tidak lagi diantar, tapi naek sepeda. jarak sekolah rumah yang 10-an km tidak terasa karena aku slalu brangkat sama-sama temen sekampung dan sesekolah. waktu itu lalu lintas tidak serame sekarang. motor masih menjadi barang mewah, meski harganya tidak lebih dari sejuta perak. rasanya nyaman pergi pulang naek sepeda jaman itu. sesampai di sekolah pun tidak begitu berkeringat, cukup di lap dan minum segelas minuman bersoda sudah kembali seger rasanya. oiya, waktu itu belum ada air putih dalam kemasan seperti sekarang ya.

rasanya di smp, kami, para pemakai sepeda tergolong minoritas. smp kami kebetulan smp swasta terbaik saat itu, dan banyak anak orang berduit menyekolahkan anaknya di sana. mereka banyak yang diantar naek mobil mersi, minimal bawa sepeda motor sendiri, tentu saja pake sim c hasil nembak. tapi entah mengapa di antara golongan ini kok rasanya tidak ada perbedaan ya. semua nyampur begitu saja.

tiga tahun lamanya aku rutin bersepeda, bahkan sewaktu kelas 2 smp harus masuk siang, brangkat jam 11-an, pulang jam 5-an. rasanya enjoy banget. pulang dari sekolah mampir di warung es juice. pesen satu gelas juice, mantabs! kebetulan warung berada deket dengan rumah, palingan 3km menjelang rumah, jadi sembari istirahat sembari menghilangkan dahaga.

tapi di antara periode 3 tahun itu, sobatku, salah seorang temen naek sepeda, meninggal karena kecelakaan. bukan karena naek sepeda. we missed you beni. sejak saat itu tinggalah kami bersepeda 4 orang. kami kompak sampai lulus smp. setelahnya mereka semua masuk ke sma 3 dan aku ke sma 1. tempat di mana kehidupan organisasi dan spiritualku mulai menemukan wadahnya untuk digembleng. lain kali aku cerita.

yang begitulah asal muasal kecintaanku pada sepeda.

Iklan