Tag

,

di milis mtb sedang hangat dibicarakan mengenai adanya kasta atau kelas pesepeda. maksudnya ada yang punya sepeda murah dan ada yang muahaaaal. seorang member mengeluhkan adanya kecenderungan bahwa mereka membentuk kelompok sendiri – sendiri secara eksklusive. yang mahal kumpul dengan yang mahal, sedangkan pemilik sepeda murah meriah cukup puas bergaul dengan sesamanya. apakah benar begitu?

tidak sepenuhnya salah! jadi ada benarnya anggapan demikian itu. kecenderungan orang akan mencari teman atau kelompok kepada mereka yang memiliki selera yang sama. ini lumrah terjadi di mana – mana. alias tidak melulu di dalam kelompok mtb’er. namun yang membedakan bahwa di dalam dunia peremtebean ini, sejatinya kemampuan dengkul sebagai komponen utama untuk bersepeda memegang peranan jauh lebih penting. alhasil, yang lebih banyak terjadi saat ini, para genjoter berkumpul menurut kemampuan masing – masing.

penggenjot pemula sungkan untuk bergabung dengan senior kecuali bila punya mental baja! ini sungguh benar. apabila seorang pemula ikut touring senior kudu tahan dicela dan disiksa. yang mental tempe ya tentu saja langsung down dan kapok. tapi yang bermental baja, justru menjadikannya sebagai tantangan yang berarti.

ada benarnya bahwa beberapa senior mtb memiliki sepeda dengan spesifikasi aduhai dengan harga selangit. hal ini lebih dikarenakan mereka telah berhasil menemukan rahasia perakitan sepeda. artinya, mereka sanggup merasakan perbedaan penggunaan komponen yang berbeda untuk sepeda yang sama. jargon bahwa harga tidak menipu sungguh bisa mereka rasakan. sehingga mereka terpacu untuk membeli komponen sesuai dengan style riding mereka masing – masing. karena kemampuan riding mereka pada umumnya di atas rata – rata, maka komponen yang mereka pakai pun juga berharga di atas rata – rata.

untuk melatih kepekaan seperti di atas tidak lain dan tidak bukan dapat dicapai dengan rutin bersepeda, kalau perlu mulai dari sepeda low-end budget. begitu sudah khatam dengan sepeda satu, segera upgrade ke komponen di atasnya. begitu seterusnya. namun tentu saja konsekuensinya adalah harus ada cukup dana.

sangat banyak contoh senior mtb di negeri ini yang mulai bersepeda dengan low-end budget dan sekarang bisa memiliki sepeda seharga motor termahal. biasanya rider seperti ini sangat terbuka untuk diajak sharing ilmu dan berbagi tips bersepeda.

akan tetapi ada juga rider “beruntung” yang langsung membeli sepeda mahal pada saat pertama kali genjot. setelah itu rutin ke trek hanya untuk ngobrol dan makan, genjot kalo tidak sedang malas. namun biasanya banyak malasnya. alhasil, seperti terjadi di sebuah trek legendaris mtb, pada setiap weekend berubah menjadi layaknya showroom sepeda.

kesimpulannya, bagi para pemula jangan hiraukan adanya kecenderungan seperti pengelompokan tersebut di atas. itu hal yang sangat wajar, dan akan terseleksi secara alami. temukan teman atau kelompok yang bisa memacu perkembangan skill bersepeda anda.

happy riding.

Iklan