Tag

,

sebuah tulisan lawas dari member b2w yang masih sangat relevan untuk ditampilkan. silakan dinikmati untuk mengukur ambang batas kegilaan anda semua.

Bike2Work, Kegilaan yang Dianjurkan

Oleh: Muhammad Arief Rahman

Tahukah Anda kalau bersepeda bisa membuat orang jadi gila? Dan apakah Anda percaya kalau di sisi lain kegilaan justru dapat dicegah dengan bersepeda? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata gila dapat berarti: 1. sakit ingatan; sakit jiwa. 2. tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya. 3. kata seru dalam percakapan yang bisa berarti ‘kagum’. 4. menyukai, mencintai atau menggemari sesuatu. 5. tidak masuk akal. Walaupun memiliki beragam makna, namun semuanya berada pada wilayah semantik yang sama, atau dalam istilah linguistik disebut polisemi.

Lalu, semantik apa yang mengikat kelima makna kata gila itu sehingga ia disebut polisemi? Di sini Anda mungkin tidak akan menemukan penjelasannya secara teoretis kebahasaan. Namun, uraian saya ini mungkin akan membuat Anda mengerti apa esensi sederhana dari kata gila, bagaimana menyikapi kegilaan, dan kegilaan apa yang dianjurkan.

*****

Pagi di pertengahan Oktober 2005 lalu, sebuah tayangan entertainment di salah satu TV swasta mengulas tentang suatu komunitas pekerja bersepeda yang selalu menggunakan sepeda ke tempat kerjanya. Sebuah aktivitas yang tak lazim dilakukan mayoritas masyarakat di Ibukota, yang kebanyakan lebih memilih menggunakan bus atau kendaraan bermotor lainnya. Spontan, saya pun berkomentar, “Gila!”. Kini, komentar itu telah berbalik tertuju kepada saya. Hampir semua rekan kerja saya berseru, “Dasar gila”, karena saya pergi bekerja dengan menggenjot sepeda dari rumah di kawasan Cipayung, Jakarta Timur menuju Kuningan, Jakarta Selatan sejak November 2005 lalu hingga sekarang. Benarkah saya sudah gila? Bisa jadi. Menurut kabar di sebuah situs berita, kini semakin banyak orang gila berkeliaran di jalan karena stres pascakenaikan harga BBM. Faktanya, selama ini saya pun stres dengan situasi kemacetan lalulintas Ibukota dan polusi udara yang semakin parah. Kendaraan bermotor setiap hari kian bertambah justru seiring meroketnya harga BBM. Ironis! Namun ternyata komunitas pekerja bersepeda, Bike to Work (B2W) Indonesia menawarkan alternatif jitu untuk mengekspresikan kegilaan tersebut. Mereka mensosialisasikan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi alternatif sehari-hari untuk ke tempat kerja maupun aktivitas lainnya.

Jika menilik makna kata gila yang berarti ‘tidak biasa’, maka dapat dibenarkan kalau B2W adalah suatu bentuk kegilaan tersendiri. Bagaimana tidak, saat ini siapa yang mau bersepeda di tengah-tengah lalulintas Ibukota yang semrawut? Siapapun mungkin akan ngeri menggenjot sepeda di antara kendaraan bermotor yang berseliweran sak enak udele dewe. Untuk bersepeda di Jakarta mungkin dibutuhkan kesiapan bertarung dengan pengendara bermesin demi memperebutkan space walau setengah meter saja. Beradu sikut dengan pesepeda motor bahkan diseruduk moncong bus, seolah telah ditakdirkan sebagai risiko yang harus di hadapi para ksatria “kendaraan berotot” ini. Ya, kata orang Ibukota memang kejam, begitupun lalulintas jalan rayanya.

Tetapi B2W justru ingin melawan image yang telah melekat kuat di sebagian besar masyarakat Ibukota. Predikat gila pada B2W tidak habis hanya sampai di situ. Kata gila juga dapat berarti ‘tidak masuk akal’. Dan faktanya, mayoritas orang menganggap aktivitas yang diusung B2W sebagai tindakan gila, nggak masuk akal. Seperti yang juga diserukan rekan kerja saya tadi. Ketika saya ikut menyuarakan beberapa moto yang diusung B2W, no pollution, less traffic, save gasoline, save money, mereka pun dengan apatis menimpali save your lung guys!

Bagi mereka, bersepeda di Jakarta untuk saat ini sangat tidak realistis. Jakarta sebagai kota berperingkat ketiga polusi udara di dunia, lalulintasnya sudah semrawut. Mereka nggak mau kalau paru-paru mereka ikutan jadi “semrawut” karena kebanyakan menghirup CO2. Tapi melalui aksi kampanyenya, B2W berusaha membalikkan opini masyarakat bahwa ternyata kegilaan itu justru sangat realistis. Pepatah Jerman mengatakan, “Sebuah sepeda jauh lebih baik daripada satu truk obat-obatan”. Artinya, Dengan bersepeda, kita tidak perlu obat-obatan lain untuk menjaga kesehatan kita. Banyak hasil riset membuktikan bahwa orang-orang yang mengendarai sepeda setiap hari, mengalami kemajuan tingkat kesehatan yang lebih baik daripada orang-orang yang biasa berkendaraan mobil atau kereta. Bahkan, ada salah satu anggota B2W yang masih tampak bugar di usianya yang hampir kepala lima karena kegilaannya itu.

Bukti riset dan pengalaman seperti itu kerap disosialisasikan para anggota B2W ke masyarakat baik secara langsung maupun lewat forum di milis B2W. Soal polusi udara yang justru mengancam paru-paru? Nggak usah cemas. Toh B2W tidak asal menyuruh orang-orang bersepeda di Jakarata begitu saja. Ada persiapan yang harus dipenuhi untuk bersepeda di Ibukota. Di antaranya, wajib hukumnya memakai masker agar paru-paru kita terlindung dari udara yang tidak sehat. Justru dengan banyaknya orang bersepeda akan menghemat konsumsi BBM, sehingga mengurangi polusi udara di kota-kota besar seperti Jakarta. Jadi, ini kegilaan yang masuk akal dan realistis bukan! Hanya sampai di situkah kegilaan B2W? Tampaknya tidak. Karena kata gila masih menyimpan asosiasi makna yang lain, yaitu ‘menyukai’, ‘mencintai’, atau ‘menggemari’ (sesuatu). Menggiring masyarakat agar mau memilih sepeda sebagai transportasi alternatif, memang tidak mudah. Perlu ada kesadaran yang ditanamkan terlebih dahulu dalam diri mereka bahwa bersepeda itu ternyata menyenangkan. Ketika seseorang telah merasakan senang bersepeda, maka ia pun berpotensi jadi gila dalam arti menjadi menyukai, menggemari, atau bahkan mencintai aktivitas bersepeda. Rasa senang itu sendiri bisa timbul dari beberapa faktor, di antaranya faktor kenyamanan. Dan berbicara masalah kenyamanan bersepeda, dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, kenyamanan yang ditimbulkan dari diri sendiri melalui sepeda yang digunakan, dan beberapa perlengkapan utama seperti helm, masker, sarung tangan, kacamata, atau jaket pelindung. Kedua, kenyamanan yang diciptakan dari luar, yaitu prasarana pendukung berupa bike lane atau jalur prioritas sepeda yang perlu ditopang fasilitas lain seperti tempat parkir khusus sepeda dan kamar mandi di perkantoran, mal, terminal, stasiun dan tempat-tempat umum lainnya, sebagaimana yang tergambar dalam misi B2W. Itu semua dapat tercapai apabila pemerintah, pengelola perkantoran, dan pengelola fasilitas umum, serta masyarakat, sama-sama berkomitmen untuk meraihnya.

Saat ini tercatat baru beberapa gedung perkantoran di Jakarta yang telah menyediakan fasilitas parkiran sepeda, salah satunya gedung Siemens di Jalan M.T. Haryono, Jakarta Selatan. Itu digagas atas inisiatif salah seorang karyawannya yang juga anggota B2W. Sementara untuk penyediaan bike line, nampaknya harus membutuhkan proses panjang karena terkait dengan pembangunan infrastruktur besar yang terencana dengan perhitungan matang. Misalnya, perlu memperhitungkan berapa banyak orang yang menggunakan sepeda di Jakarta, sehingga pembangunan bike line tidak mubazir. Karena tidak mungkin pemerintah mau membuat bike line jika jumlah pengguna sepeda hanya sedikit. Tampak dilematik memang, karena di sisi lain adanya bike line justru juga dapat mendorong masyarakat untuk mau bersepeda. Tetapi B2W tidak larut dalam dilema itu. Misi perealisasian bike line terus disuarakan dan B2W pun kian gencar mengajak banyak orang untuk bersepeda. Sampai saat ini anggota komunitas B2W yang tergabung di milis b2w-indonesia@yahoogroups.com per 2 Agustus 2006, berjumlah 567 orang.

Sekedar asumsi, jika jumlah minimum pengguna sepeda di Jakarta yang dipersyaratkan harus sebanyak 300 ribuan untuk realisasi bike line, maka jumlah tersebut baru dapat tercapai selama 10 tahun lebih. Itu pun jika setiap anggotanya berhasil “meracuni” kegilaan ini kepada satu orang saja setiap minggunya. Tapi perlu dicatat, di luar anggota yang terdaftar itu, masih ada lebih dari dua ribuan pesepeda yang berseliweran di jalan-jalan Ibukota. Jadi, bukan mustahil jika angka yang dipersyaratkan itu dapat terwujud kurang dari dua tahun. Maka tak heran jika hingga saat ini B2W ─yang dideklarasikan pada 27 Agustus 2005 lalu─ tetap gencar dan serius menjalankan visi dan misinya itu. Hampir setiap minggu aksi B2W, baik secara individu maupun masal selalu terlihat lewat kampanye di jalan-jalan Ibukota seperti di Bunderan HI. Selain melalui flayer, penyebaran informasinya pun kini mulai diperluas melalui kerjasama dengan berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Dan, di penghujung Agustus lalu, B2W genap setahun menularkan kegilaannya. Dengan tema 2006-nya, “Cegah Polusi, Hemat BBM, Kurangi Macet, Sehat dan Bugar Beraktifitas”, B2W mungkin akan menjadi virus baru yang akan menjangkiti masyarakat Ibukota. Maka lagi-lagi akan banyak orang yang berseru “Gila!”. Namun kegilaan kali ini tertuju pada bentuk semantik berupa seruan yang menggambarkan ungkapan ‘kagum’.

Terbukti telah banyak respon positif masyarakat terhadap gerakan ini. Tak jarang rasa salut walau sekadar acungan jempol diberikan sebagai bentuk apresiasi mereka. Seperti yang pernah dialami salah satu anggota B2W yang suatu ketika dipepet sebuah mobil, yang ternyata si pengendara hanya mau menyampaikan rasa salutnya. Jadi, terjawab sudah semantik yang mengikat makna kata gila. Tanpa sebuah penjabaran teori linguistik, Anda dapat melihat satu wilayah semantik yang merangkul seluruh makna kata gila dalam sebuah nama Bike to Work

*****

Tapi ternyata uraian ini belum habis karena kegilaan ini masih menyimpan sebuah tanya. Bagaimana dengan masalah kepraktisan? Tak dipungkiri pastinya orang akan menganggap kalau bersepeda ke tempat kerja pasti repot. Badan berkeringat, sehingga harus mandi dan mau tak mau harus membawa pakaian ganti. Kalau soal itu nanti dulu, karena yang tepenting adalah apakah Anda telah siap menerima kegilaan yang ditawarkan B2W? Sebaiknya sih Anda menjawab “iya” karena ini adalah kegilaan yang sangat dianjurkan. Maka ketika Anda siap untuk mejadi gila, tanpa di sadari nantinya Anda akan benar-benar gila sehingga tak lagi memikirkan repotnya berkeringat, mandi, dan membawa pakaian ganti. Hingga pada suatu saat rekan-rekan kerja Anda yang akan menyadarkan Anda dengan seruan “Dasar gila!”. Tapi jangan khawatir, niscaya Anda tetap akan mempertahankan kegilaan yang akhirnya telah Anda sadari.

Jakarta, 24 Juli 2006
*Muhammad Arief Rahman Penulis adalah anggota komunitas Bike2Work

Iklan