Tag

,

rabu, 24 september 2008, pagi hari. bangun dan kutengok jam dinding, jarum panjang di angka 10, jarum pendek di angka 4 kurang beberapa derajat. kubangun pelan dan kutengok sebelahku, kosong. ternyata istriku pindah ke kamar anak kami. mungkin semalem dia nangis minta ditemani.

berjingkat pelan takut membangunkan anak-anak, kutengok kamar sebelah, rupanya mereka tidur bertiga satu bed. istriku di tengah, sebelah kanannya jagoan kami, sebelah kirinya bidadari kami. tempat tidur atasnya, kosong. tempat tidur anak kami memang tandem, atas dan bawah.  kukecup pelan kening ketiganya, hanya untuk istriku kutambah bonus di bibirnya. rupanya dia terkaget dan bangun, “ah papa, bikin kaget!”

“selamat pagi, selamat ulang tahun mom! ingat kan ini hari ulang tahunmu?” bisikku di telinganya.

maka berkembanglah senyuman dia, senyuman yang masih membuatku terkesima sampai sekarang. yang sempat membuatku tidak bisa tidur semalaman di masa – masa pacaran dulu. ah…jadi teringat!

pelan dia angkat tubuhnya dan bangun, sejurus kemudian kami berpelukan, tanpa sepatah katapun terucap. membiarkan segalanya larut dalam udara pagi hari.

di usia pernikahan kami sejalan dengan kedewasan diri kami, banyak hal yang memang tidak harus diucapkan, cukup diendapkan dan dibisikkan lewat hati. dan kami pun saling mengerti.

dan alunan ajakan sahur dari masjid komplek menyadarkan kami kembali bahwa malam telah berganti pagi.

Iklan