Tag

, ,

setiap kali melintasi jalan di depan sekolah itu, kemacetan selalu menghadang. arus lalu lintas terganggu karena ratusan pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah itu banyak yang diantar oleh orang tua atau sopir mereka menggunakan mobil pribadi. sebagian lagi menggunakan sepeda motor tanpa helm dan tentu saja juga tanpa dilengkapi surat ijin mengemudi mengingat usia mereka belumlah genap 17 tahun. ratusan siswa itu masuk pada jam yang sama. jadi bisa anda bayangkan betapa kacau situasinya. semua orang terburu-buru dan menjadi tidak peduli dengan sesamanya. saling serobot jalan, saling berlomba membunyikan klakson yang memekakkan telinga, atau saling meneriaki meminta jalan. pagi pun berubah menjadi hiruk pikuk melelahkan semangat meski hari belumlah beranjak siang.

anda mungkin salah satu korban yang sering terjebak dalam situasi yang sama. atau mungkin anda adalah salah satu orang tua murid di sana. siapapun anda, kalau berada dalam situasi seperti tergambar di atas akan merasa jengkel namun sekaligus tidak berdaya. bukan begitu?

sesungguhnya, andai saya dan anda semua mau berpikir sedikit kreatif, mencoba keluar dari zona nyaman kita, situasi seperti tergambar di atas sangat gampang diatasi. tidak percaya? mari coba kita telaah bersama.

usia anak sampai dengan menjelang remaja (SD – SMP) adalan masa – masa pembentukan karakter pribadi yang sangat besar pengaruhnya terhadap masa depan anak itu nantinya. di masa ini idealnya kita sebagai orang tua harus mendidik anak dengan kedisiplinan tinggi. disiplin tidak harus sekeras militer. disiplin tetap bisa dihadirkan dalam suasana penuh cinta. salah satu caranya dengan memaksa anak kita untuk menaati aturan lalu lintas dan etika berlalu lintas.

aturan pertama, apapun alasannya membiarkan anak usia berusia kurang dari 17 tahun menggunakan sepeda motor adalah keputusan salah dan ilegal. mungkin saja anak anda adalah telah lihai naik motor atau bahkan menjadi juara balap motor, tapi tetap saja ini ilegal di mata hukum. jadi larang anak naik sepeda motor ke sekolah sebelum memiliki SIM yang diperoleh secara resmi.

aturan kedua, bila jarak sekolah rumah relatif jauh, di atas 20km, berikan uang saku pada anak untuk ikut merasakan susahnya berdesakan di dalam bus kota atau angkutan kota lainnya. beruntunglah kalo rumah dan sekolah anda terjangkau layanan bus khusus sekolah. membiarkan anak bersaing mendapatkan ruang yang cukup untuk berdiri di bus kota bukanlah tindakan kejam. mungkin saja anda beralasan bahwa bus kota tidak aman dan nyaman. tapi justru dengan semakin banyak warga masyarakat yang beralih menggunakan kendaraan umum, kita semua bisa semakin kuat menekan pemerintah mengatur transportasi publik agar menjadi lebih manusiawi. kalau kita sendiri menghindari angkutan umum dan lebih suka menggunakan kendaraan pribadi, masalah angkutan umum ini hanya akan tetap kusut dan tidak akan pernah terselesaikan.

ketiga, belikan sepeda untuk buah hati kita. sekarang ini pilihan sepeda dalam negeri begitu banyak, dari harga 800rb-an sampai dengan 30jt-an. pilih yang sesuai peruntukkan dan budget anda. apakah anda beralasan jarak rumah ke sekolah terlalu jauh dan tidak mungkin ditempuh dengan sepeda? jarak 10km adalah jarak ideal yang bisa ditempuh tanpa harus berkeringat. namun anda akan terkejut mendapati kenyataan bahwa beberapa para pelaku b2w yang notabene tidak muda lagi masih sanggup menggenjot sepedanya dari rumah ke kantor dengan jarak tidak kurang dari 30km! ini menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dengan sepeda. semua kembali kepada niat untuk turut menjaga lingkungan sekaligus menjadi lebih sehat.

aturan keempat, mari kita desak sekolah di mana anak – anak kita belajar untuk melarang penggunaan motor dan mobil ke sekolah. jadikan sepeda satu – satunya alat transportasi yang diijinkan. dengan begitu, diharapkan tidak ada lagi situasi di mana orang tua murid harus susah payah mengambil kredit motor hanya untuk menyenangkan anaknya atau agar anaknya tidak merasa minder bergaul dengan teman – temannya yang sudah bermotor. sekolah bukan lagi ajang pamer kekayaan orang tua murid, tapi benar – benar menjadi tempat murid belajar mendapatkan bekal untuk hidup di masa depan.

akhirnya, sudah saatnya kita bertindak untuk membuat kualitas hidup kita meningkat. bukan dengan duduk diam tapi dalam hati memaki – maki orang serta pemerintah kita sendiri. kalau bukan kita, siapa lagi? kalau bukan sekarang, kapan lagi?