Tag

, , ,

rupanya kebiasaan menggampangkan segala urusan, serba boleh, meremehkan urusan, telah mengakar terlampau dalam di masyarakat kita. sampai sebegitu parahnya hingga tidak sadar kalau tindakannya berpotensi menjurumuskan anak ke dalam bahaya kematian. keputusan yang bisa membunuh anak kandung sendiri.

aku tidak bohong. lihatlah sekeliling kita. lihatlah betapa semakin banyak anak kecil yang belum akil balik leluasa mengendarai motor keliling kota bahkan tanpa helm. terparah adalah : naik motor, tanpa helm dan membocengkan teman atau saudara yang sama-sama masih anak kecil. lihatlah bukti foto di iMenantang mautni.

aku benar – benar gagal memahami, apa yang menjadikan dasar bagi si orangtua anak  membolehkan anaknya yang masih belum remaja untuk bepergian menggunakan motor, tanpa helm, dan memboncengkan anak seusianya. apa coba?

silakan tanyakan kepada psikolog mana pun di dunia, tidak akan ada satu pun yang memberikan rekomendasi bahwa anak di bawah umur boleh membawa sepeda motor meski sudah mampu mengendarainya. undang – undang lalu lintas di seluruh dunia sudah pasti melarang hal itu. usia minimal seseorang untuk mendapatkan surat ijin mengemudi saja 17tahun! itu usia remaja yang duduk di sekolah menengah atas kelas 2 atau 3.

apa yang menyebabkan orangtua sekarang bersikap meremehkan urusan macam ini? apakah disebabkan oleh tekanan hidup atau ketidakberdayaan melawan dunia yang penuh ketidakpastian ini? mungkinkan orangtua macam ini adalah cermin orangtua yang sudah putus asa?

ayo bersama kita luruskan kondisi ngawur seperti ini. jika aku dan kamu peduli, kemudian menularkan sikap ini kepada yang lain, niscaya akan semakin banyak orangtua yang peduli terhadap keselamatan diri sendiri dan anak-anak mereka.

*foto oleh Pak Yohanes, diambil di sebuah ruas jalan di Tangerang.