Tag

, , , , ,

kasus tersebarnya foto telanjang seorang pria yang diyakini sebagai pangeran harry, putra mahkota kerajaan inggris, menambah panjang daftar korban media dan teknologi. mungkin sudah ratusan korban yang bernasib sama dengan pangeran harry, menjadi bulan-bulanan media di seluruh dunia. gara-garanya, foto yang seharusnya menjadi ranah pribadi tersebar keluar, entah siapa yang membocorkannya.

peristiwa ini tak ayal menimbulkan pertanyaan, sebatas mana media bisa menghargai privasi obyek beritanya? apakah hukum gagal melindungi hak asasi dari warga negaranya?

ternyata di negara-negara maju pun, dua hal itu, etika dan hukum, seperti lumpuh  ketika dibenturkan kepada hukum rimba perdagangan, “asal duit masuk”. lihatlah betapa media online dan offline di seluruh dunia seperti tak henti menelanjangi pangeran harry yang sudah telanjang, namun juga berusaha menelanjangi anggota kerajaan inggris yang lain. hanya media inggris yang diam, meski dipaksa diam oleh otoritas kerajaan inggris.

apa yang dllakukan pangeran harry dan kawan-kawan dekatnya adalah bukan pelanggaran hukum. pesta yang diselenggarakan di area pribadi, bukan umum, meski itu sebuah pesta yang mengumbar ketelanjangan pun, selama tidak ada protes dari tetangga kiri kanan adalah sah di mata hukum. itulah yang sesungguhnya terjadi di sebuah klub mewah las vegas. tolong jangan hakimi si ganteng pangeran harry dengan kacamata budaya timur.

lantas bagaimana jika kemudian media hanya tunduk kepada hukum pasar? adalah menjadi tanggungjawab kita bersama agar kita tidak menyalahgunakan teknologi untuk tujuan merendahkan harkat dan martabat seseorang, pun dia seorang selebritis atau orang terkenal. jangan tergiur oleh popularitas semu. sebab hanya masalah waktu saja, kita pun bisa menjadi korban.

terakhir, jangan telanjang di depan kamera. apapun alasannya. kemajuan teknologi telah sampai kepada sesuatu hal yang kita pun tak pernah membayangkan sebelumnya.