Tag

, , , , , ,

setiap pergi dan pulang kerja, aku selalu melewati 2 buah lampu pengatur lalu lintas (lampu lalin). sebenarnya 3 buah namun yang satu sudah sekian abad rusak tidak diperbaiki juga oleh pihak berwenang. mungkin karena di lokasi itu ada ‘polisi ceceng/noceng’ yang siap 24jam mengatur lalu lintas. nah ada yang selalu aku perhatikan saat harus berhenti menunggu lampu hijau menyala menggantikan lampu merah. apa yang menarik?

secara umum, pengemudi angkot dan pengendara motor hanya patuh jika ada polisi berjaga di lokasi. ada juga beberapa pengemudi mobil pribadi yang melanggar, mungkin sopirnya masih berasa bawa angkot, bukan plat hitam. fenomena apa ini ya?

sayangnya aku bukan psikolog jadilah aku gagal paham mengapa ada fenomena melanggar peraturan secara berjamaah begitu. di depan mata lagi!

barangkali para pelanggar lalu lintas itu merasa hukum tak lagi memberatkan mereka. hukum cuma seharga 50rb sd ratusan ribu rupiah yang berupa denda 86 polisi. jadi buat apa mematuhi aturan lalu lintas?

barangkali para pelanggar lalu lintas itu merasa hukum mudah dimainkan, toh bapak – bapak pejabat yang korupsi itu juga bisa lolos dari jeratan hukuman penjara dan denda berkat kepintaran pengacara bermain perkara. jadi buat apa mematuhi aturan lalu lintas?

barangkali para pelanggar lalu lintas itu merasa pelanggaran hukum adalah perkara biasa, tidak memalukan dan membuat runtuh harga diri. toh hampir setiap hari kita lihat para pejabat yang berperkara itu masih bisa mengumbar senyuman lebar di layar tipi kita. jadi buat apa mematuhi aturan lalu lintas?

barangkali para pelanggar lalu lintas itu merasa masih berada di wilayah kampung halaman, tempat di mana bisa bebas melakukan apapun, toh masih berada di wilayah “kekuasaan”. jadi buat apa mematuhi aturan lalu lintas?

para pelanggar lalu lintas itu melupakan satu hal. lampu lalu lintas sejatinya bukan lampu taman. setiap nyalanya membawa pesan sekaligus perintah yang seharusnya dipahami dan dituruti semua orang waras yang kebetulan sedang membawa kendaraan. pesan itu universal dan berlaku di seluruh dunia. merah berarti berhenti, hijau berarti jalan, dan kuning berkedip artinya waspada.

para pelanggar lalu lintas itu pasti melupakan hal lainnya, bahwa peraturan dibuat agar dunia ada keteraturan. mematuhi peraturan berarti kita mengakui dan menghargai hak orang lain. kita bukan hidup sendirian. kita hidup berdampingan dengan manusia lain yang juga memiliki hak hidup yang sama dengan kita.

para pelanggar lalu lintas itu pasti lupa diri bahwa dirinya adalah manusia, yang memiliki akal budi, dan kemampuan untuk berpikir, kemampuan menganalisa, dan kemampuan untuk mencintai sesama. jadi dengan melanggar peraturan lalu lintas, sama artinya bahwa kita mengabaikan fakta bahwa kita manusia. atau dengan kata lain, kita secara sadar merendahkan diri kita sejajar dengan hewan. miris!

peraturan tetaplah peraturan yang dibuat untuk dijalankan. tanpa adanya embel-embel ada polisi atau tidak. negara beradab adalah negara di mana rakyatnya taat pada peraturan dan secara sadar menghargai hak warga lainnya.

yuk, mulai sekarang kita sadari bahwa lampu lalu lintas bukan lampu taman, tapi lampu yang membawa pesan akan terbentuknya masyarakat yang beradab. masyarakat yang menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan.